ini adalah beberapa ketikan ketikan puisi yang gue bikin di saat gue lagi galau
Aku
rindu
Kadang
aku rindu dengkuran halusnya di belakang tubuhku
Kadang
aku rindu tawanya yang melengking di telinga ku
Kadang
aku rindu usapan-usapan tangan kasarnya di rambutku
Kadang
aku rindu kata-kata merajuknya yang mampu membujukku
Tapi
aku hanya mampu rindu
Rasanya
masa itu sudah lenyap puluhan tahun lalu
Aku
bahkan sudah lupa rasanya maupun rautnya
Aku
bahkan lupa radiasi dari kehangatan kasih sayangnya
Dirinya
semakin hari seperti batu di puncak gunung
Terlalu
tinggi, terlalu menakutkan, terlalu jauh
Dan
aku hanya akan mendapat batu gelap yang dingin setelah mati-matian mendaki
gunung
Aku
bahkan tak pernah memimpikan hidup bahagia bersamanya
Aku
hanya mengharap, menghayal sebelum fajar tiba
Menangis
di balik punggungnya dan berusaha menebarkan aura
Nyatanya
dia memang dingin dan keras, mati, mati rasa, mati jiwa, mati hatinya
harapan
yang hanya mampu untuk ku buang, harapan tentang nya, walau tanpa sadar aku
tetap merindunya.
Senja Lara
Lihatkah kau
gumpalan awan yang berjalan pelan,
yang sekarang
ku tatap bertemankan kerinduan
Semilir angin
menggoyangkan rambutku pelan,
membawa bait
demi bait aroma cinta sang pujangga
Sedikit cahaya
pendar, berlatarkan pekatnya langit di senja hari ini
Apakah kau
juga menatapnya
serangkaian
coretan Tuhan yang telah tumpah ke bumi,
aku
menatapanya dengan aura sembilu di hatiku,
sedikit
berangan, adakah kau di sudut yang berbeda,
memandang
lukisan Tuhan ini sama seperti air mataku, yang melihat senja dengan sebutir
lara
Nyatanya
Seharusnya
bahagia kita di sini,
ya disini di temani cipratan air terjun yang
menyejukkan
Harusnya
bahagia kita di sini, di temani sulur-sulur daun di bebatuan
Harusnya
bahagia kita di sini,
bergandeng tangan berdiri menantang arus sungai yang
mendayung pelan
Nyatanya
tidak, itu hanya bahagia di anganku saja
Nyatanya
tidak, kita hanya duduk di dua batu yang berbeda
Menatap dua arah yang berbeda, menghayalkan hal yang
tak pernah serupa
Nyatanya
bahagia mu hanya dia dan tetap dia
Nyatanya,
malah kenangan itu yang menggores hatimu dan menusuk perasaan ku
Nyatanya,
bahagia mu tetap dia, walau seribu aku di sampingmu